Gimana, sih, cara Group Riding?


Beberapa hari ini ngubek-ngubek internet doang kerjaannya. Wah, magabut dong …. Gak juga sih, soalnya bapak manajer emang nyuruh research salah satu satu authoring tools, jadi ya musti ngubek-ngubek internet deh.

Nah, saat ngubek-ngubek itu, nemu sebuah blog yang ngebahas soal touring, cara riding, ama strobo + sirine (rotator juga masuk kali ya …). Setelah ngebaca-baca, jadi tergelitik buat nulis deh. Yah, nyolong-nyolong waktu makan sih, hehehehe ….

Oke, kita mulai. Buat temen-temen yang masuk ke komunitas/club biasanya suka touring dan kegiatan ini dilakukan beramai-ramai (walau ada juga yang demen solo). Nah, sebelum melakukan perjalanan touring, biasanya ada screening surat-surat dan TCLOCKS. Selain itu, ditentukan juga petugas dalam rombongan tersebut (RC, sweeper, dan medic). Nah, petugas yang ditunjuk ini akan melakukan briefing singkat soal tanda-tanda dalam group riding (untuk mengingatkan kembali) maupun jalur yang akan diambil. Setelah itu, “Gentleman Start Your Engine”, wussssssssssss ….

Trus, kenapa kadang-kadang di jalan ada pandangan “miring” dari pengguna jalan lain? Padahal yang touring ini notabene anggota komunitas/club yang selalu mengkampanyekan “Safe Riding”. Untuk masalah ini, biasanya ada beberapa hal yang biasaya menjadi perhatian.

Pertama, adanya penggunaan strobo, rotator, dan sirine. Padahal peranti ini dilarang digunakan pada kendaraan sipil. Kedua, ada beberapa kode yang terkesan memprovokasi. Dan ketiga, terkesan minta diprioritaskan untuk menggunakan jalan, padahal bukan untuk kepentingan yang mendesak.

Nih, bentuk strobo ama sirine yang biasa dipake.

Strobo yang biasa digunakan. Gambar nyari di mbah google.com.

Sirine yang juga suka dipake. Gambar nyari di mbah google.com.

Trus gimana caranya supaya group riding tidak terkesan mengganggu orang laen? Ini nih yang sulit. Oke, gw akan coba kasih beberapa tips/saran/masukan mengenai hal itu. Tapi mohon diinget, ini bukan bermaksud menggurui, hanya share pengalaman, karna gw juga baru di dunia perturingan ini, heheheh ….

  1. Jumlah peserta/member dalam group. Untuk satu kloter atau rombongan, jumlah peserta itu 7 +/- 2 (sudah termasuk petugas). Artinya, maksimal dalam satu group itu 9 orang dan minimal 5 orang, kalo di bawah 5 ya gak papa. Kenapa dibatasi seperti ini? Ya biar gak ganggu orang laen kalo pas nyalip dan tentunya menekan munculnya kearogansian.
  2. Gunakan kode/tanda dengan bijaksana. Dibeberapa kasus, banyak masyarakat umum mengartikan kepalan tangan dan kaki keluar adalah mau nonjok atau nendang. Padahal itu adalah tanda untuk berhenti (mengepalkan tangan) dan memberitahu kalau ada halangan (kaki turun). Inget, gak semua orang ngerti tanda seperti ini, jadi gunakan dengan lebih bijaksana ya.
  3. No strobo, sirine, dan rotator. Inget, kendaraan kita ini kendaraan sipil, jadi alangkah lebih baiknya kalo kita tidak menggunakan ketiga barang itu. Toh turing itu bukan sesuatu yang sangat urgent, karna turing adalah panggilan bukan tuntutan.
  4. Menyalip kendaraan lain. Ini juga paling sensitif, karena banyak pengendara lain merasa disuruh minggir kalo ada rombongan yang mau turing. Inget, kita menggunakan jalanan umum, jadi kita gak punya prioritas utama. Cara yang paling bijak adalah kalo pengen satu rombongan full nyalip kendaraan di depan, maka tunggu jalur yang akan digunakan bener-bener kosong. Inilah juga kenapa anggota rombongan itu jangan banyak-banyak. Gimana kalo gak bisa satu rombongan? Ya satu-satu, bukan malah nyuruh minggir kendaraan yang dari arah berlawanan.
  5. Jangan takut ditinggal. Nah, kadang ada pernyataan, “Nyalip harus satu rombongan karna gak semua anggota tau jalan.” Ya kalo gak semua orang tau jalannya, RC-nya tanggap dong, jangan maen bablas aja. Bukankah di aturan group riding dikatakan bahwa RC harus melihat apakah rombongannya terputus atau tidak. Dan kalau pun terputus, bukankah harus nunggu? Trus apa guna sweeper kalo masih takut ketinggalan.
  6. Berikan jalan untuk orang lain. Kadang kalo kita udah turing bareng, biasanya lupa dan merasa jalan jadi milik sendiri. Inget, di atas langit ada langit, jadi sekenceng apapun kendaraan kita, masih ada yang lebih kenceng lagi. Jadi, kalo ada kendaraan laen lebih kenceng, kasih jalan. Nah, ini tugas sweeper buat ngawal kendaraan itu sampe ngelewatin rombongan.

Yah, itu tadi sedikit share dari gw, semoga bermanfaat. Inget selalu, jalanan umum itu milik rame-rame, jadi bijaksanalah.

Salam.

9 thoughts on “Gimana, sih, cara Group Riding?

  1. Bayutheprides berkata:

    Good article.

    hawa-hawanya udah ada yang mulai TCLOCK nih… Jadi ke Jogja mas? *mesem-mesem sambil ngelapin helm x)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s